NASIB BIJI KAKAO INDONESIA DI PIER 84, PHILADELPHIA- AS

agi mereka yang belum mengetahuinya, produk biji kakao Indonesia
yang diekspor ke wilayah Pantai Timur AS, pada akhirnya akan berlabuh di
Pier 84, nama salah satu dari puluhan terminal di kota Philadelphia,
Pensylvania.     Di terminal seluas 9,3 Hektar inilah, produk biji kakao
Indonesia sebanyak kurang lebih 100.000 ton/tahunnya, diproses lebih
lanjut untuk dijual kembali kepada konsumennya.        Indonesia tercatat
sebagai salah satu negara pengekspor kakao terbesar untuk AS. Namun
akhir-akhir ini, jumlah ekspor produk tersebut ke AS cenderung menurun.
Mengapa demikian?
Dalam kesempatan kunjungan Ketua Asosiasi Kakao Indonesia
(ASKINDO), Ir. Zulhefi Sikumbang di Washington DC untuk menghadiri
Annual Meeting of World Cocoa Fundation (WCF) pada tanggal 13 – 14
Oktober 2005, KBRI Washington DC telah mengadakan pertemuan pada hari
Rabu, 12 Oktober 2005 dengan Mr. Dominic O’Brien dari Philadelphia
Regional Port Authority, serta Mr. Harvey Weiner, President Director dari
perusahaan yang bergerak di bidang Rekondisi, Pengawasan Kwalitas,
Penggudangan, Fumigasi dan Penimbangan untuk pasar AS, untuk melihat
dan mendengar langsung penjelasan atas proses tersebut diatas. Selain Ir.
Sikumbang, hadir dalam pertemuan tersebut Atase Pertanian KBRI
Washington DC, Ir. Metrawinda Tunus dan Atase Perhubungan KBRI
Washington DC, Tri Sunoko.
Pihak Indonesia perlu mendengar langsung penjelasan mengenai
bagaimana penilaian pihak AS atas biji kakao Indonesia akhir-akhir ini.
Adanya kecenderungan bahwa jumlah ekspor biji kakao Indonesia ke AS
saat ini menurun. Hal tersebut bukan semata-mata karena masalah
“Automatic Detention”, namun lebih kepada masalah kwalitas produk itu
sendiri”, demikian Atase Pertanian KBRI Washington DC, Ir. Metrawinda
Tunus menjelaskan kepada ANTARA.
Menurut Mr. Harvey Weiner, sebagian besar biji coklat yang diterima
dari Indonesia, dalam keadaan “Mouldy” (berjamur atau bulukan). Hal
tersebut dapat disebabkan oleh proses pengeringan yang tidak dilakukan
dengan benar. Disamping itu, biji kakao Indonesia tersebut, rentan dengan
serangan “Cocoa Pod Borer” yaitu sejenis hama yang akan memakan biji
kakao atau “Nib”.
Perjalanan selama 40 hari dan perubahan cuaca yang terjadi, akan
mengakibatkan telur hama pada biji kakao tersebut menetas, sehingga
banyak serangga yang berkembang biak dan hal tersebut sangat
dikhawatirkan oleh pihak AS, sehingga kemudian produk Indonesia tersebut,
dikenakan “Automatic Detention”. Automatic Detention itu sendiri tidak
memakan biaya yang besar, yaitu sebesar US$ 4/ton dan dibebankan
kepada importirnya. Namun pihak AS tetap menghindari “kehadiran”
serangga tersebut yang dikhawatirkan akan menyebarkan penyakit.
Dari hasil peninjauan ke Pier 84, terlihat bahwa biji kakao Indonesia
memang bersaing ketat dengan produk biji kakao dari negara Pantai Gading
Afrika. “Saya melihat sendiri bahwa biji kakao asal negara Pantai Gading
kwalitasnya cukup baik” demikian penuturan Ir. Zulhefi Sikumbang. Menurut
Ir. Sikumbang, perlu diketahui lebih lanjut apakah kerusakan-kerusakan
tersebut benar-benar disebabkan oleh faktor pengeringannya atau ada hal
lain seperti praktek-praktek illegal oleh oknum-oknum tertentu yang
memasukkan “sampah” biji kakao ke karung-karung tersebut agar
memperberat timbangannya. Namun demikian, Ir. Sikumbang menegaskan
bahwa hampir dapat dipastikan para petani biji kakao di Indonesia telah
memilih biji kakao berkwalitas prima untuk dikirim ke AS.
Menurut Mr. Wiener, berbeda dengan Indonesia, maka negara Pantai
Gading selain memiki kwalitas biji kakao yang cukup baik, proses
pengirimannya ke AS hanya memakan waktu 14 hari, sehingga produknya
tidak terlalu lama berada dalam kondisi cuaca yang berubah-rubah.
Nampaknya Indonesia perlu lebih memberikan perhatian yang lebih
besar terhadap masalah ini, apabila produk biji kakao Indonesia masih
diharapkan menjadi salah satu produk andalan dan unggulan untuk pasar
AS. Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut, dengan buruknya mutu biji kakao
dari Indonesia akhir-akhir ini, akan mengakibatkan pasar AS mengalihkan
perhatiannya pada produk dari Afrika.
Washington DC, 13 Oktober 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: