Kakao Nasional Terjepit di antara Industri Asing

JAKARTA – Indonesia dapat dikatakan salah satu negara di dunia yang menguasai hampir sebagian besar komoditas strategis pertanian. Sebut saja komoditas rotan, kopi, kelapa sawit, kakao, dan lainnya. Ironisnya Indonesia tidak mendapat nilai tambah dari komoditas-komoditas tersebut. Industrinya justru berkembang di negara lain, sementara Indonesia cuma mengekspor bahan baku.

Siapa tidak kenal Cadbury, Hershey, atau Van Houten? Merek-merek makanan cokelat ini sangat mendunia. Tidak hanya produknya, negara produsennya menjadi begitu terkenal, seperti Swiss, Inggris, Amerika Serikat. Industri-industri semacam ini memang tumbuh menjadi perusahaan multinasional.
Menurut Institute Global Justice (IGJ) lewat praktik merger dan akuisisi dari 200 perusahaan kini menjadi 17 perusahaan yang menguasai setengah dari pasar kakao olahan. Dari jumlah itu, hanya ada lima perusahaan multinasional menguasai pasar terbesar, yakni Nestle, Mars, Hershey, Kraft-Jacob-Suchard, dan Cadbury-Schweppes.
Belum lama ini, Cadbury-Schweppes yang bermarkas di Inggris mengumumkan membeli Green & Black’s yang juga merupakan produsen cokelat besar di negara tersebut. Tapi siapa yang peduli jika bahan baku produsen raksasa itu diimpor dari negara lain?
Hershey, misalnya, mengimpor biji kakao dari Indonesia dan Ghana. Meski industri tumbuh di Eropa dan AS, namun kakao hanya terdapat di negara-negara tropis dekat khatulistiwa.
Menurut data Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) produksi kakao dunia sebesar 3 juta ton. Indonesia merupakan produsen bahan baku kakao kedua terbesar dunia setelah Pantai Gading.
Dari 3 juta produksi kakao dunia, 50 persen atau 1,5 juta ton berasal dari Pantai Gading sedangkan Indonesia menguasai pasar 6 persen atau sekitar 580.000 ton. Produksi kakao Indonesia terus meningkat dari 200.000 ton pada awal 2000 dan naik menjadi 580.000 ton pada 2004.
Kendati produsen kakao terbesar dunia, faktanya industri kakao sulit tumbuh dan berkembang di Indonesia. Menurut Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Piter Jasman, industri kakao lokal ada 15 perusahaan, tidak termasuk asing.
Kapasitas industri 300.000 ton namun utilisasi hanya 100.000 ton. Di lain pihak, Askindo mengeluarkan data berbeda yang menyebutkan penyerapan biji kakao oleh industri sebesar 250.000 ton.
Terlepas dari perbedaan data tersebut yang jelas ada kapasitas tidak terpakai. Industri tidak berdaya menghadapi persaingan dengan asing. Industri nasional lebih banyak memproduksi kakao setengah jadi seperti cake, butter, dan powder. Sangat sedikit yang mampu memproduksi makanan cokelat.
Produk industri olahan kakao ini pun masih diadang di pasar tujuan ekspor. Piter mengatakan negara importir mengenakan tarif bea masuk yang tinggi atas produk kakao olahan. Tujuannya melindungi industri dalam negeri mereka.
Cina mengenakan tarif bea masuk atas produk cocoa cake, cocoa butter, cocoa powder dan cocoa liquor masing-masing 10%, 22%, 15%, dan 10%. Malaysia berlakukan tarif 30%, 25%, 25% dan 30%. Uni Eropa juga mengenakan tarif tinggi bervariasi dari 7%-12%, sedangkan Brasil menetapkan tarif untuk semua produk tersebut 14%.
“Walaupun negara lain tidak memiliki sumber bahan baku, namun industri kakaonya berkembang pesat,” tegas Piter.
Ini berbanding terbalik dengan Indonesia. Meski menjadi negara penghasil kakao, ternyata pemerintah hanya mengenakan tarif atas produk kakao olahan sebesar 5%. Tak bisa dielakkan, impor kakao olahan semakin meningkat.
Di lain pihak untuk berkembang di produk makanan cokelat, industri nasional jelas kalah bersaing dengan serbuan impor dari merek-merek Cadbury, Hershey atau Van Houten. Bagaimana tidak, dengan tarif hanya lima persen atas impor kakao olahan, pemerintah justru menerapkan PPN 10 persen atas perdagangan biji kakao di dalam negeri. Padahal negara-negara pengimpor biji kakao tidak mengenakan tarif atas produk tersebut.
“Akibat pengenaan PPN pembelian bahan baku di dalam negeri, pedagang lebih senang mengekspor daripada menjual di dalam negeri,” kata Peter Andow dari Asosiasi Pengolahan Industri Kakao dan Cokelat Indonesia (Apikci).
Pengenaan PPN ini tampaknya lebih menguntungkan pedagang asing dari pada lokal. Saat ini, asing leluasa masuk dan menguasai perdagangan kakao di Indonesia.
Ketua Umum Askindo Zulhefi Sikumbang mengatakan ada 11 perusahaan asing yang kini bercokol di Makassar. Perusahaan-perusahaan tersebut dengan modal kuat menyerbu hingga ke tingkat petani.
“Dari 300.000 ton biji kakao ekspor, trader asing menguasai ekspor 80 persen, sedangkan trader lokal hanya 20 persen,” kata Zulhefi.
Bagi perusahaan asing, mengekspor lebih menguntungkan dari pada mereka harus mendirikan pabrik di Indonesia. Untuk ekspor tidak ada pengenaan tarif sedangkan jika menjual ke dalam negeri dihambat dengan pengenaan tarif 10 persen.
Soal pengenaan PPN, pedagang dan industri sepakat meminta pemerintah mencabut kebijakan itu pada kakao. Meski bisa direstitusi, tapi prosesnya sulit dan berbelit-belit. “PPN tidak memberi manfaat bagi negara hanya mengganggu cashflow perusahaan,” kata Zulhefi.

Kualitas Rendah
Tidak cuma PPN, persoalan pada kualitas produksi biji kakao merupakan inti masalah. Kualitas biji kakao di dalam negeri sangat rendah. Sekitar 90 persen dari ekspor kakao merupakan kakao yang tidak difermentasi. Biji kakao tidak difermentasi memang mempunyai pasar di dunia. Namun, harganya menjadi sangat rendah dibandingkan kakao fermentasi.
“Akibat kualitas biji kakao rendah membuat produksi kakao petani kurang dihargai di pasar internasional,” kata Zulhefi.
Di pasar internasional berlaku aturan kualitas kakao menentukan berapa potongan harga (discount) di terminal market berkedudukan di London. Pada 2003, discount masih sebesar US$ 60/ton pada 2004-2005 discount naik menjadi US$ 200/ton. Akibatnya, harga di tingkat petani pun tertekan.
Kecilnya kakao berkualitas menyebabkan industri dalam negeri juga harus mengimpor kakao yang difermentasi. Menurut Piter Jasman, industri mengimpor biji kakao dari Ghana 30.000 ton dan bubuk cokelat 24.000 ton. Mereka terpaksa membeli kakao tanpa fermentasi dari petani lokal.
Sangat disayangkan, kualitas kurang mendapat perhatian pemerintah, padahal rendahnya kualitas bukan masalah baru lagi. Jika petani bisa menghasilkan kakao bermutu, petani dan industri mendapatkan manfaat.
Zulhefi menegaskan kebijakan pemerintah meningkatkan produktivitas tanaman mutlak diperlukan. Dari 900.000 hektare lahan, petani kakao 90 persen adalah petani rakyat yang rata-rata hanya menguasai 1 hektare lahan. Itu sebabnya, petani sulit melakukan perbaikan lahan mengingat kecilnya penguasaan lahan.
Peningkatan benih kakao yang tahan terhadap hama Penggerek Buah Kakao (PBK) tidak bisa dilakukan petani perseorangan, padahal tingkat serangan PBK sangat tinggi bisa menurunkan produksi sampai 40-60 persen.
“Harus ada gerakan pemerintah meningkatan kualitas kakao di dalam negeri. Petani dengan modal sangat terbatas tidak bisa melakukan itu,” kata Zulhefi.
Apabila petani menghasilkan kakao bermutu, tidak hanya menguntungkan petani juga industri. Namun, untuk menjawab rangkaian masalah ini, pemerintah tampaknya belum mampu berbuat.
Namun, Zulhefi menilai belum ada gerakan dari pemerintah meningkatkan kualitas bahan baku kakao. Askindo, dikatakannya, sudah berkali-kali meminta agar dilakukan ketentuan SNI wajib terhadap pembelian kakao di dalam negeri dan melaksanakan fermentasi secara nasional, namun tidak ada respons dari pemerintah.
Menurut Piter Jasman, meningkatkan daya saing industri tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus ada solusi terintegrasi mulai dari on farm sampai off farm. Meningkatkan produktivitas petani hingga memperbaiki rantai distribusi perdagangannya.

Satu Tanggapan

  1. ada pertanyaan diseputaran pantai gading apakah pada januari tahun ini ada kejadian kerusuhan/up rising yg menimbulkan koban dan salah satunya adalah serving director of kakao.mohon pertanyaan saya kalau anda mengetahui mohon di kirim via email saya.terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: