Ringkasan
Perbanyakan bibit kakao secara okulasi dan sambung pucuk lazimnya dilakukan pada bibit umur 4-5 bulan sehingga perlu waktu 9-12 bulan untuk dapat dipindah ke kebun. Upaya memperpendek usia di pembibitan dengan tanpa mengurangi kualitas bibit, dapat ditempuh melalui klonalisasi lebih awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh klon, aplikasi pupuk daun dan pengikatan bahan entres terhadap keberhasilan sambung kakao pada bibit umur satu bulan. Penelitian dilaksanakan di KP. Kaliwining, 45 m dpl, tipe iklim D (Sehmidt & Ferguson) dengan rancangan acak kelompok faktorial. Perlakuan percobaan pertama faktorial 4 x 3 dan percobaan kedua faktorial 3 x 3 x 2 tiga ulangan. Faktor pertama percobaan pertama adalah klon, yaitu TSH 858, ICS 13, ICS 60. dan DR 2. Faktor kedua adalah pengikatan bahan entres sebelum digunakan, yaitu tanpa diikat, diikat 2 minggu, diikat 4 minggu. Faktor pertama percobaan kedua adalah klon, yaitu KW 162, KW 163, dan KW 165. Faktor kedua adalah pengikatan calon entres sebelum digunakan, yaitu tanpa diikat; diikat kawat 2 minggu; diikat kawat 4 minggu. Faktor ketiga adalah pemupukan calon entres, yaitu tanpa pupuk daun; dan dengan pupuk daun. Bibit batang bawah berupa semaian ICS 60 umur 30 hari, dan metode penyambungan adalah sambung pucuk di atas kotiledon. Variabel pengamatan meliputi persentase sambungan jadi, panjang tunas, diameter tunas, bobot basah dan bobot kering tunas, kandungan total C dan N bahan entres. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengikatan bahan entres tidak efektif untuk Meningkatkan cadangan nutrisi sebab bahan entres secara periodik berlunas. Dampaknya bahwa pengaruhnya terhadap jumlah sambungan jadi serta pertumbuhan tunas baru, tidak nyata. Sampai umur satu bulan, jumlah sambungan jadi berkisar 90-100%, selanjutnya turun tajam sampai sekitar 30-60% tergantung pada klon yang digunakan. Jumlah sambungan jadi tertinggi dari percobaan pertama adalah DR 2 yaitu 62 % dan dari percobaan kedua klon KW 162 dengan aplikasi pupuk daun yakni 39%. Kematian bibit sambungan dimulai dari daun dan hasil isolasi menunjukkan terserang penyakit Rhizoctonia solani, Phytophthora serta Collectotrichum gloeosporioides. Dari kajian anatomi pertautan menunjukkan sambungan yang mati ditandai dengan pertautan yang lemah tersusun oleh sel-sel dan menimbulkan rongga ketika disayat, sementara pertautan yang sehat ditandai dengan akumulasi senyawa lignin dan tidak pecah ketika dipotong. Disimpulkan bahwa tempat pembibitan yang terpisah dari pertanaman tua, media yang steril penyakit tular tanah, entres yang sehat, pengikatan sambungan yang erat serta pencegahan dari serangan penyakit merupakan kunci yang penting untuk keberhasilan sambung dini kakao.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: