INOVASI TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN KAKAO DI LABORATORIUM AGRIBISNIS PRIMA TANI KABUPATEN LOMBOK BARAT

Sudarto, I Made Wisnu W. dan Irianto Basuki

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB

ABSTRAK

Desa Genggelang merupakan desa terpilih untuk kegiatan laboratorium agribisnis Prima Tani 2007-2009 dengan agroekosistem lahan kering dataran rendah iklim basah mamiliki ketinggian tempat berkisar antara 5 sampai dengan lebih kurang 550 m dpl dengan topografi miring dan bergelombang. Perencanaan dan implementasi Prima Tani (Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Teknologi Inovasi Pertanian) memerlukan dukungan data dan informasi yang akurat dan lengkap, data dan informasi tersebut dikumpulkan melalui survey lapangan dengan metode Participatory Rural Appraisal (PRA). PRA merupakan cara belajar dari dan dengan masyarakat untuk menemukan, menganalisis dan mengevaluasi kendala dan peluang untuk mengetahui dan memutuskan dengan tepat waktu pelaksanaan kegiatan. Dalam pelaksanaan PRA melibatkan peran serta masyarakat setempat seperti tokoh masyarakat, ketua kelompok tani, pedagang, aparat desa, PPL, kepala desa serta instansi terkait di Pemda dan peran BPTP NTB sebagai fasilitator. Hasil PRA dmenunjukkan bahwa beberapa tanaman terpilih berturut-turut kakao, kopi, jambu mete dan ternak kambing serta berbagai permasalahannya. Masalah yang dihadapi oleh petani dalam budidaya kakao adalah rendahnya produksi, harga biji kakao yang rendah, dan serangan hama penggerek buah kakao (PBK) Conoppomorpha cramerella (Snell.) dan penyakit busuk buah Phytophthora palmivora (Butl.). Inovasi teknologi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut antara lain dengan rehabilitasi tanaman yaitu dengan cara sambung samping terhadap tanaman kakao yang tidak produktif, tumbuh kerdil/kurang sehat, pemangkasan produksi dan pengendaliah hama/penyakit.

Kata kunci : Prima tani, agribisnis, kakao

PENDAHULUAN

Perkembangan kakao di Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir cukup luas, sampai pada tahun 1996 luas areal kakao mencapai 605.944 ha khususnya terjadi di perkebunan rakyat (Dirjen Perkebunan, 1997). Produksi kakao Indonesia diperkirakan mencapai 317.729 ton, kakao rakyat menyumbang 283.516 ton atau sekitar 75 % dari produksi nasional. Nusa Tenggara Barat dengan total areal perkebunan kakao seluas 3.394,47 ha produksinya mencapai 170,62 ton dan kabupaten Lombok Barat dengan luas areal 2.295,47 ha produksi yang dihasilkan mencapai 148,09 ton (BPS, 2005). Sedangkan di Desa Genggelang yang merupakan lokasi kegiatan Laboratorium Agribisnis Prima Tani kabupaten Lombok Barat, luas perkebunan kakao 957 ha dengan tingkat produktivitas hanya 7,5 kwintal/ha/tahun biji kering (Anonim, 2005; BPS,2005). Produksi tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan bahan tanaman klon-klon unggul yang dapat mencapai produksi di atas satu ton, seperti ICS 60 (1.500 kg/ha), hibrida (2.000 kg/ha) dan lain-lain (Anonim, 2003).

Asal mula pertanaman kakao adalah merupakan proyek dari Dinas Perkebunan Tk. I propinsi Nusa Tenggara Barat dan bahan tanam benih hibrida F 1, sehingga tanaman yang ada banyak dijumpai tidak seragam. Menurut Sri Winarsih dan Adi Prawoto (1998) perbanyakan tanaman kakao dengan biji secara fisiologis tidak menjamin keseragaman, produktivitas, dan mutu biji kakao. Selain itu pengelolaan tanaman kakao oleh petani juga sangat sederhana dari awal tanam sampai tanaman kakao menghasilkan, tanaman tidak dilakukan pemangkasan bentuk sehingga terlihat pertumbuhan tanaman cukup tinggi yaitu melebihi 5 meter, kanopi banyak yang saling bersinggungan sehingga kondisi kebun cukup lembab.

Salah satu kegiatan Departemen Pertanian yang dimulai oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian adalah Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani). Aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pertanian berkelanjutan dan melestarikan lingkungan. Berdasarkan prinsip, ciri dan tujuan Prima Tani tersebut maka berbagai inovasi teknologi yang telah dihasilkan oleh BPTP maupun Balit selanjutnya dapat mendukung, memperkuat penyebarluasan teknologi ditingkat petani untuk mengoptimalisasikan pengembangan agroindustri pedesaan dan sistem usahatani intensifikasi dan diversifikasi. Sasarannya adalah agar mampu meningkatkan nilai tambah produk dan pendapatan petani yang layak.

Bertitik tolak dari kondisi riil di atas maka usaha yang dapat dilakukan untuk memperoleh keseragaman, produktivitas dan mutu biji kakao adalah melalui inovasi teknologi budidaya pada tanaman yang produktivitasnya rendah dapat direhabilitasi menjadi tanaman klonal yang produktivitasnya tinggi melalui teknik sambung-samping, pemangkasan, dan pengendalian hama dan penyakit.

METODE

Kegiatan dilakukan di Desa Genggelang Kecamatan Gangga kabupaten Lombok Barat yang merupakan desa terpilih untuk kegiatan laboratorium agribisnis Prima Tani dengan zona agroekosistem lahan kering dataran rendah iklim basah. Perencanaan dan implementasi Prima Tani (Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Teknologi Inovasi Pertanian) memerlukan dukungan data, informasi yang akurat dan lengkap. Inventarisasi potensi sumberdaya meliputi : biofisik dan eksisting teknologi di lokasi kegiatan. Data dan informasi tersebut dikumpulkan melalui survey lapangan dengan metode Participatory Rural Appraisal/PRA (Bambang Irawan, dkk., 2005). PRA merupakan cara belajar dari dan dengan masyarakat untuk menemukan, menganalisis dan mengevaluasi kendala dan peluang untuk mengetahui dan memutuskan dengan tepat waktu dan pelaksanaan kegiatan. PRA dilaksanakan dengan teknik wawancara langsung dengan kelompok (focus discussion group) yang terdiri dari kelompok tani, tokoh masyarakat, PPL, aparat desa, kepala desa, kadus, tokoh agama, pedagang, dan instansi terkait Pemda dan peran BPTP NTB sebagai fasilitator. Dalam pelaksanaan PRA diperoleh tanaman terpilih oleh petani berturut-turut antara lain kakao, kopi, jambu mete, kacang tanah dan ternak kambing serta ranking masalahnya. Masalah yang diperoleh pada tanaman kakao antara lain produksi rendah, serangan hama dan penyakit serta harga yang rendah.

HASIL DAN PEMBASAHAN

A. Gambaran Wilayah

Desa Genggelang dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah, tengah dan atas. Dusun-dusun yang terletak di bagian bawah atau di sebelah Utara yaitu: Sankukun, Sembaro, Karang Jurang, Kerakas, Kerurak. Dusun yang terletak di bagian Tengah yaitu: Gangga, Kerta Raharja, Gitak Demung, Penjor dan dusun yang terlatek di bagian atas yaitu: Monggal Atas, Monggal Bawah dan Paok Rempek. Dusun bagian bawah berada pada ketinggian antara 5 ≤ 200 m dpl, usaha tani yang diusahakan tanaman pangan; bagian tengah berada pada ketinggian antara 200 ≤300 m dpl dan bagian atas berada pada ketinggian > 300 m dpl. Dusun yang berada pada elevasi yang cukup tinggi adalah Desa Monggal Atas (± 550 m dpl) usaha tani yang diusahakan bagian tengah dan atas adalah tanaman perkebunan termasuk diantaranya tanaman kakao. Pada wilayah yang topografinya miring.

Jumlah penduduk Desa Genggelang pada tahun 2005 sebanyak 10.394 jiwa yang terdiri dari 2.410 kepala keluarga. Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin, yaitu terdiri dari laki-laki 5.129 jiwa dan perempuan 5.265 jiwa. Jumlah petani tanaman perkebunan 2.682 jiwa yang melibatkan 1.109 kepala keluarga atau 45,12% KK dan yang bermata pencaharian dari pertanian tanaman pangan sebanyak 1.524 jiwa yang melibatkan 630 rumah tangga atau 25,63% KK (Anonim, 2005).

Berdasarkan hasil analisis data seri hujan periode 1993-2006 di lokasi Prima Tani Desa Genggelang Kecamatan Gangga kabupaten Lombok Barat menunjukkan rata-rata curah hujan bulanan berkisar antara 7 – 407 mm/bulan, curah hujan tahunan sebanyak 1409 mm/tahun, jumlah hari hujan antara 0 – 11 hari per bulan, dan jumlah hari hujan tahunan sebanyak 48 hari (Anonim, 2007). Persyaratan tumbuh yang sesuai untuk tanaman kakao, jumlah curah hujan 1500 sampai dengan 2500 mm/tahun dengan bulan hujan (curah hujan <60 mm/bulan) kurang dari 3 bulan, suhu maksimum 30 – 32°C minimum 18 – 21°C (Adi Prawoto, et. al., 2006).

CURAH HUJAN DI DESA GENGGELANG

0

50

100

150

200

250

300

350

400

450

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

BULAN

CURAH HUJAN (mm/bulan)

CURAH HUJAN (mm/bulan)

HARI HUJAN DI DESA GENGGELANG

0

2

4

6

8

10

12

14

16

18

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

BULAN

HARI HUJAN (hari/bulan)

HARI HUJAN (hari/bulan)

Gambar 1. Distribusi Hujan dan Hari Hujan Bulanan di Desa Genggelang

Kondisi hujan mengindikasikan bahwa lokasi Prima Tani tergolong ke dalam zona agroklimat D-4 (Oldeman, 1980) dan tipe hujan E dengan puncak periode basah pada bulan Februari dan puncak periode kering pada bulan September. Kelembaban udara relatif berkisar 81% sepanjang tahun, dengan capaian nilai maksimum bulan Desember dan minimum terjadi bulan Mei dan suhu rerata tahunan berkisar 25,8°C.

B. Eksisting teknologi tanaman kakao

Usahatani dominan yang diusahakan penduduk Desa Genggelang adalah usahatani tanaman perkebunan tahunan. Jenis tanaman perkebunan yang diusahakan dan biasanya ditanam dalam bentuk kebun, antara lain: kakao, kopi, kelapa, mangga, cengkeh, pisang dan durian. Secara umum teknologi yang diterapkan petani dalam budidya tanaman tersebut masih sangat sederhana.

Umur tanaman kakao yang terdapat di Desa Genggelang sangat bervariasi yaitu berkisar antara 10-15 tahun dan bahkan pada beberapa kebun petani ada tanaman yang masih muda, berumur sekitar ± 2 tahun. Jenis tanaman kakao yang diusahakan adalah kakao rakyat atau biasa dikenal dengan kakao lindak (bulk cacao). Jarak tanam yang digunakan bervariasi yaitu antara 2,5 x 3 meter.

Kegiatan usahatani kakao yang dikerjakan petani saat ini terbatas hanya pada kegiatan pemeliharaan. Setiap tahun petani melakukan kegiatan pemangkasan, baik pemangkasan berat maupun ringan. Pemangkasan biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan Juli sampai dengan akhir bulan Agustus. Pemangkasan dilakukan dengan cara memotong cabang-cabang yang overlap dan cabang/ranting yang tidak produktif atau ranting-ranting yang mati. Sebagian besar kegiatan ini dilakukan oleh orang laki-laki. Tujuan dilakukan pemangkasan, salah satunya, adalah untuk mengurangi kelembaban kebun. Dengan berkurangnya kelembaban pada kebun diharapkan dapat mengurangi perkembangan hama Cacao moth sp. atau yang biasa dikenal dengan hama penggerek buah kakao (PBK).

Hama penggerek buah kakao biasanya mulai menyerang pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret, dimana pada bulan-bulan tersebut tanaman sudah mulai berbuah. Petani dalam mengendalikan hama tersebut sudah menerapkan sistem kondomisasi pada buah kako yang masih muda yaitu dengan cara membungkus buah kakao dengan plastik. Tujuan dari komdomisasi ini adalah agar hama penggerek buah kakao tidak dapat menggerek buah dan larvanya tidak dapat masuk kedalam buah kakao.

Tidak seluruh kebun milik petani dibuatkan rorak disekitar barisan tanaman kakao. Terlihat daun-daun kakao yang rontok hanya dibersihkan bersamaan waktu kegiatan penyiangan. Daun-daun rontok yang mengering dan sisa-sisa tanaman hasil penyiangan oleh petani dikumpulkan pada suatu tempat untuk kemudian dibakar. Kegiatan penyiangan biasanya dilakukan pada awal musim penghujan yaitu pada bulan Nopember-Desember setiap tahunnya. Penyiangan tersebut kebanyakan dilakukan oleh laki-laki dan sedikit tenaga perempuan.

Pemupukan dilaksanakan setelah kegiatan penyiangan selesai dilakukan dengan cara membuat parit disekitar tanaman kemudian pupuk ditaburkan secara merata dan parit ditutup kembali dengan tanah, ada sebagian kecil petani yang melakukan pemupukan dengan kotoran sapi dan hal ini biasanya dilkakukan bagi mereka yang memiliki ternak sapi. Ternak sapi, kebanyakan oleh petani kalau siang hari ditambatkan pada tanaman kakao dan hal ini secara tidak langsung akan menambah bahan organik disekitar tanaman kakao, cuma sayangnya penambatan ternak sapi tersebut tidak dilakukan berpindah-pindah pada setiap tanaman sehingga hanya tanaman yang dipergunakan untuk tambatan ternak yang mendapat bahan organik. Pembuatan rorak hanya sebagian kecil petani yang melaksanakannya.

Tanaman kakao mulai berbunga pada pertengahan bulan Oktober sampai dengan bulan Nopember dan terjadi pembuahan pada bulan Desember. Sistem berbunga dari tanaman adalah sifatnya epigaes yaitu bunga dan buah menempel pada batang dan cabang-cabangnya, sehingga kegiatan kondomisasi pada buah kakao adalah tindakan yang paling efektif untuk mengendalikan hama penggerek buah kakao, selain cara-cara pengendalian yang lainnya. Karena bersifat epigaes, sehingga banyak kita temui buah-buah kakao sangat rendah posisinya dan dekat sekali dengan permukaan tanah.

Musim panen puncaknya (panen raya) pada bulan Maret sampai dengan bulan April. Panen raya dilakukan setiap minggu sekali dan panen biasa dilakukan 2 minggu sekali sepanjang hari setiap tahun. Hasil panen kakao langsung dilakukan pemecahan buah dan biji-biji tersebut dilakukan pemeraman dengan air semalam kemudian dilakukan penjemuran. Ada sebagian petani yang setelah melakukan pemecahan buah kakao langsung menjualnya dan ada pula yang melakukan penjemuran selama satu hari. Produksi yang dihasilkan rata-rata 700 kg/ha biji kering, harga biji kakao yang baru dikeluarkan dari kulit buah dan dijemur selama satu sebesar Rp. 3000,-sampai dengan Rp. 5000,- per kilogram. Petani dalam menjual biji kakao tidak dilakukan secara kelompok dan pedagang pengumpul (pengejos) mendatangi rumah-rumah petani.

C. Inovasi Teknologi Budidaya Kakao

Untuk meningkatkan produktivitas kakao, inovasi teknologi budidaya yang dapat dilakukan anatara lain : pemangkasan produksi, rehabilitasi kakao menjadi tanaman klonal, pengendalian hama dan penyakit.

1. Pemangkasan Produksi,

Kunci dari pangkas pemeliharaan adalah mempertahankan tanaman tetap sehat dan produksi tinggi, dilakukan pada tanaman menghasilkan (TM). Tujuannya untuk mempertahankan kerangka yang sudah terbentuk. Cabang yang dipangkas cabang sakit, cabang balik, cabang terlindung atau cabang yang melindungi, cabang yang masuk jauh kedalam tajuk tanaman disebelahnya. Frekuensi pangkasan 6-8 kali pertahun. Tunas air dibuang 2-4 minggu sekali.

Potong ranting/cabang

Sangat ternaungi, masuk jauh ketajuk tetangga, cabang yang menggantung, dan cabang yang sakit/patah, dan tunas-tunas air harus selalu dihilangkan.

Petik buah-buah yang sakit dan dibenamkan.

Dilakukan dengan sering dengan intensitas ringan (misal 2 bulan sekali).

Pangkas produksi dilakukan lebih berat dari pada pangkas pemeliharaan.

Diutamakan topping 3-4 meter.

Memicu flush, pembungaan dan pertumbuhan buah.

Jadwal pemangkasan tanaman kakao

Jan

Peb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

Produksi

Pemeliharaan

Wiwilan

2. Rehabilitasi Kakao Menjadi Tanaman Klonal,

Dalam rehabilitasi tanaman kakao menjadi tanaman klonal salah satunya dapat dilakukan dengan cara sambung-samping. Teknik sambung-samping hanya dilakukan pada tanaman kakao yang tidak produktif lagi dengan bahan entres klon-klon unggul.

Sambung-samping

Merupakan metode rehabilitasi tanaman yang masih sehat tetapi perlu direhabilitasi karena berbagai alasan.

Dilaksanakan pada musim hujan, saat tanaman tumbuh aktif.

Dilakukan pada batang bawah yang sehat, tumbuh aktif ditandai dengan kulit batang mudah dibuka.

Disiapkan batang atas (entres) klon-klon unggul anjuran yang jelas identitasnya.

Bahan entres berupa cabang plagiotrop berwarna hijau atau hijau kecoklatan yang daunnya telah menua, dengan diameter 0,75 – 1,50 cm.

Pelaksanaan Sambung Samping

a. Batang Bawah

Pada ketinggian 45 – 60 cm dari permukaan tanah, kulit batang ditoreh vertikal sepanjang 5 cm, jarak antar torehan 1 – 2 cm atau sama dengan diameter entres yang akan disisipkan. Tebalnya sayatan sampai mencapai kambium.

Di ujung atas torehan dipotong miring ke bawah sampai mencapai kambium, selanjutnya kulit diungkit apakah kulit mudah dibuka. Membukanya ”lidah” kulit nanti bersamaan dengan saat menyisipkan entres.

Sambung samping dapat dilakukan lebih dari satu tempat pada setiap pohon.


b. Entres

Entres disiapkan dengan cara memotongnya sepanjang 10 – 12 cm dengan 3 – 5 mata tunas.

Pangkal entres disayat miring sehingga diperoleh bentuk permukaan sayatan runcing seperti baji. Panjang sayatan 3 – 4 cm.

Untuk memperoleh tingkat keberhasilan tinggi, entres yang digunakan harus dalam keadaan segar.

c. Penutupan Entres dan Pengikatan

Entres perlahan-lahan disisipkan pada batang bawah. Sisi sayatan yang berbentuk seperti baji dletakkan menghadap batang bawah kemudian lidah” kulit ditutupkan kembali.

Entres dikerodong dengan kantong plastik dengan ukuran 18 x 8 cm kemudian diikat kuat dengan tali rafia. Pengiakatan harus cukup ertak sehingga air hujan tidak masuk ke luka sayatan.

Dapat juga entres ditutp dengan lembaran plastik kemudian diikat erat.

Lembar plastik ini minimum setengah keliling linkaran batang bawah.

Kunci keberhasilan sambung samping antara lain terletak pada sejauh mana entres terhindar dari dehidrasi dan luka sayatan terhindar dari air hujan.

Setelah 3 – 4 minggu dlakukan pengamatan, apabila entres tampak segar berarti sambungan jadi, sebaliknya jika entres kering atau busuk maka gagal.

Pada sambungan yang gagal, dapat dilakukan sambung ulang pada sisi yang berlawanan.

Setelah panjang tunas ±2 cm maka kantong plastik penutup entres dibuka dengan cara merobeknya tanpa melepas tali pengikatnya. Apabila digunakan lembaran plastik sebagai penutup, tali penutup entrs dilepas sedangkan tali yang mengikat bertautan tetap dipertahankan. Setelah tiga bulan dan entres sudah melekat erat, maka tali pengikat yang bertautan bisa dilepas.

d. Perawatan Tunas Baru

Secara teratur tunas-tunas air yang tumbuh dari batang bawah dibersihkan.

Tunas-tunas baru yang tumbuh diikatkan pada batang bawah agar tumbuh vertikal.

Tajuk batang bawah yan menutup tunas baru dipotong (disiwing).

Engendalian hama dan penyakit, dilakukan dengan penyemprotan pestisida secara teratur. Hama yang sering menyerang adalah Helopeltis spp, kutu putih, dan berbagai ulat pemakan daun. Penyakit yang sering menyerang adalah Colletotrichum sp.

Pangkasan bentuk tunas baru dilakukan dengan memotong ujung tunas primer ini pada jarak 60 cm dan memelihara 3 cabang sekunder. Pangkasan selanjutnya dengan memotong ujung-ujung cabang sekunder pada batas 30 cm dari tempat percabangan. Batang bawah baru dipotong total pada saat tunas baru sudah kuat dan mulai berbuah, yaitu ada umur 1,5 – 2 tahun pada jarak 20 – 50 cm diatas pertautan.

Perawatan rutin tetap dilakukan sesuai baku teknis seperti wiwilan, pemupukan, pengaturan pohon penaung dan pengendalian hama/penyakit.

3. Pengendalian Hama dan Penyakit,

Hama yang dijumpai dan sering menyerang tanaman kakao di Desa Genggelang adalah adalah hama penggerek buah kakao (PBK) Conoppomorpha cramerella (Snell.) dan penyakit busuk buah Phytophthora palmivora (Butl.).

Pengendalian hama PBK dapat dilakukan dengan cara pemangkasan bentuk, membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4 m untuk mempermudah pengendalian dan panen. Penyelubungan buah berukuran 8 – 10 cm dengan kantong plastik. Secara biologi dengan menggunakan semut hitam. Untuk meningkatkan populasi semut hitam, perlu membuat sarang dari lipatan daun kelapa atau daun kakao dan diletakkan di atas jorket.

Pengendalian penyakit busuk buah dapat dilakukan secara terpadu : sanitasi kebun yaitu memetik semua buah busuk kemudian membenam di dalam tanah sedalam 30 cm, kultur teknis yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao sehingga kelembaban di dalam kebun turun serta penanaman klon tahan seperti DRC 16, Sca 6, Sca 12, ICS 6 dan lain-lain (Anonim, 2003).

KESIMPULAN

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

Desa Genggelang secaga geografis dibagi menjadi 3 bagian yaitu Dusun bagian bawah berada pada ketinggian antara 5 ≤ 200 m dpl, usaha tani yang diusahakan tanaman pangan; bagian tengah berada pada ketinggian antara 200 ≤300 m dpl dan bagian atas berada pada ketinggian > 300 m dpl. Dusun yang berada pada elevasi yang cukup tinggi adalah Desa Monggal Atas (± 550 m dpl) usaha tani yang diusahakan bagian tengah dan atas adalah tanaman perkebunan termasuk diantaranya tanaman kakao. Topografi miring dan bergelombang.

Berdasarkan hasil PRA diperoleh hasil tanaman terpilih kakao, kopi, jambu mete, kelapa dan ternak kambing. Masalah yang timbul pada tanaman kakao produksi rendah, sharga rendah dan serangan hama penggerek buah kakao (PBK) Conoppomorpha cramerella (Snell.) dan penyakit busuk buah Phytophthora palmivora (Butl.).

Berdasarkan hasil analisis data seri hujan periode 1993-2006 di lokasi Prima Tani Desa Genggelang Kecamatan Gangga kabupaten Lombok Barat menunjukkan rata-rata curah hujan bulanan berkisar antara 7 – 407 mm/bulan, curah hujan tahunan sebanyak 1409 mm/tahun, jumlah hari hujan antara 0 – 11 hari per bulan, dan jumlah hari hujan tahunan sebanyak 48 hari.

Untuk meningkatkan produktivitas kakao, inovasi teknologi budidaya yang dapat dilakukan anatara lain : pemangkasan produksi, rehabilitasi kakao menjadi tanaman klonal, pengendalian hama dan penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Adi Parwoto, Pudji Rahardjo, Soetanto Abdoellah, Sri Sukmanto S., Sri Winarsih, Bambang Odang M., Dedy Suhendi, Soekandar Wiryadiputra dan Sulistyowati. 2006. Pedoman Teknis Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma cacao L). Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Jember.

Anonim. 2003. Pedoman Teknis Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma cacao L). Pusat penelitian Kopi dan Kakao. Jember.

Anonim. 2005. Programa Penyuluhan Kecamatan Gangga. Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Barat. Nusa Tenggara Barat.

Anonim. 2005. Monografi Desa Genggelang Kecamatan Gangga kabupaten Lombok Barat. Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat. NTB.

Anonim. 2007. Laporan Sementara Identifikasi dan Evaluasi Potensi Lahan Untuk Mendukung Prima Tani di Desa Genggelang Kecamatan Gangga kabupaten Lombok Barat. Nusa Tenggara Barat. Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor.

BPS. 2005. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka. Biro Pusat Statistik Propinsi NTB. Mataram.

BPS. 2005. Kecamatan Gangga Dalam Angka. Biro Pusat Statistik Propinsi NTB. Mataram.

Bambang Irawan, Agung Hendriadi, Zaenal Mahmud, Tri Pranadji, B. Susilo S. dan Sudjadi. 2005. Panduan Penyusunan Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Direktorat Jenderal Perkebunan (1997). Statistik Perkebunan Indonesia 1995-1997: Kakao. Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta. 58 p.

Sri Winarsih dan A. Adi Prawoto. 1998. Pedoman Teknis Sambung-Samping Kakao. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Volume 14 (1), Pebruari 1998. Jember. p: 90-96.

Oldeman,R.L., Irsal Las, and Muladi. 1980. The Agroclimate Maps Of Kalimatan, Maluku, Irian jaya, and Bali West and East Nusa Tenggara Contrib. No. 60. Centr. Res. Inst. Agrcr. Bogor.

2 Tanggapan

  1. saya tinggal di sumatra utara dimana saya bisa mendsapatkan bibit kakao yang baik untuk pembibitan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: