Replanting, jaminan ketahanan pangan

ISU kelaparan (?) atau mungkin rawan pangan tahun ini kembali mewarnai irama pembangunan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tahun lalu, isu yang sama sangat dominan dan merata hampir di seluruh wilayah NTT. Kalau 2005 kelaparan dipicu oleh gangguan curah hujan yang sangat rendah pada musim tanam (MT) 2004, maka rawan pangan di Kabupaten Sikka tahun ini bukan karena gangguan curah hujan, tetapi lebih disebabkan oleh kompleksitas serangan beberapa hama dan penyakit utama pada pertanaman kakao petani. Kondisi rawan pangan yang telah dipublikasi dari berbagai media seakan-akan merupakan sebuah ironisme untuk kaum awam. Mengapa tidak? Rawan pangan justru terjadi di tengah keadaan curah hujan yang normal di musim tanam yang lalu. Sampai saat tulisan ini disiapkan, isu rawan pangan di kabupaten ini diyakini masih terus dibahas oleh pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat atau pihak lain yang berkompeten karena isu ini tidak hanya telah menjadi masalah lokal saja, tetapi juga telah merambah menjadi isu nasional. Hal ini terbukti dengan berita-berita yang dipublikasi melalui media cetak maupun elektronik lokal maupun nasional.

Jika keadaannya seperti ini, tentu sektor pertanian akan menjadi sorotan tajam dan harus mampu menjawab (mencari solusi) soal yang satu ini. Yang lebih parah lagi, sektor ini seakan-akan disalahkan dengan berbagai argumen. Hal ini harus diterima oleh para komunitas pengelola pembangunan pertanian yang ada di NTT sebagai sesuatu yang wajar. Banyak wacana yang analitis atau pun yang spekulatif dalam melihat penyebab mengapa sampai terjadi rawan pangan di Sikka. Situasi rawan pangan ini mungkin sedikit menarik karena banyak orang tahu bahwa Sikka bukan kabupaten yang tergolong marginal. Bahkan kabupaten ini dikenal sebagai kawasan suplayer kakao, jambu mete, kelapa dan pisang untuk wilayah lain.

Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber yang patut dipercaya menyebutkan bahwa rawan pangan yang terjadi di Sikka adalah karena petani setempat tidak dapat menikmati panen kakao karena diserang hama dan penyakit serta kelebihan hujan dan kerusakan pertanaman akibat angin kencang pada awal bulan Maret. Total desa yang mengalami hal ini yakni 76 desa dalam 9 kecamatan atau meliputi 9986 ha. Kerugian ini setara dengan Rp 24 miliar, karena petani telah kehilangan hasil mencapai 70 – 100%.

Tulisan ini akan memuat beberapa informasi dan pikiran kiranya dapat dijadikan buah pikiran untuk pembangunan perkebunan rakyat setempat dan bisa saja dapat dijadikan wacana bagi wilayah-wilayah yang memiliki kemiripan permasalahan. Pikiran ini merupakan analisis obyektif penulis yang baru saja berkunjung padakawasan-kawasan yang dianggap mengalami masalah seperti di Kecamatan Kewapante, Bola, Maumere, Nita dan Paga.

Usahatani lokal vs ketahanan pangan

Memahami sistem usahatani (SUT) yang dikaitkan dengan sistem ketahanan pangan masyarakat adalah syarat perlu dalam proses analisis ketahanan pangan wilayah yang sustainable. Peristiwa rawan pangan yang sedang terjadi di Kabupaten Sikka ini merupakan contoh nyata yang telah menjadi cermin bagi kita, bahwa SUT yang sudah eksis pun bisa rapuh (fragil) karena dipicu oleh faktor yang tak-terduga (antara lain, oleh hama dan penyakit). Di Sikka, sebagian besar SUT berbasis tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa, kopi atau pun cengkeh (termasuk pisang) yang ditanam secara bercampur dalam satu lahan. Sistem ini sangat berbeda dengan SUT yang ada di Timor atau pun di Sumba. Jika di Sumba dan Timor berbasis tanaman pangan (jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian) yang akan berperan sebagai food security, maka di Sikka khususnya wilayah-wilayah sentra kakao tanaman pangan ini perannya sangat kecil, bahkan pada banyak parsil-parsil petani tidak menanam tanaman pangan ini. Petani Sikka, sangat mengandalkan sumber pendapatan yang berasal dari kakao yang kemudian mereka membeli bahan pangan seperti beras atau bahan pangan lain. Keberadaan sistem usahatani ini umumnya berlaku pada 10 desa yang bermasalah (awalnya di sini) yakni desa-desa yang berada di kecamatan Bola dan Kewapante.

Plus-minus dari SUT yang spesifik sudah tentu ada. Namun, tidak menerjemahkan bahwa SUT yang sudah ada di wilayah-wilayah yang bermasalah ini perlu introduksi tanaman pangan dalam sistem ini, karena secara teknis belum tentu bisa diaplikasi mengingat kondisi topografi lahan serta keberadaan pertanaman kakao yang umumnya berpopulasi padat. Jika diamati lebih dekat pada 10 desa yang terjadi rawan pangan ini, sebetulnya kalau disederhanakan adalah masalah yang disebabkan oleh pertanaman kakao yang tua. Menurut informasi, di desa-desa inilah disebut sebagai desa-desa pertama di Sikka yang menanam kakao pada 30-an tahun yang lalu, misalnya di Desa Baumekot (Kewapante) atau Wolomotong (Bola). Bahkan tahun 1957, ada seorang pastor yang membawa biji kakao (30 pohon) di desa ini. Wajarlah pada kondisi pertanaman seumur ini mudah diserang oleh hama dan penyakit. Idealnya pertanaman kakao pada umur 25 tahun perlu dibongkar untuk ditanam baru (replanting).

Telah diketahui serangan hama dan penyakit yang menyerang pertanaman kakao adalah hama penggerek buah kakao/PBK (conopomorpha cramerella Snell.); hama pengisap batang dan buah (helopeltis antonii Sign.); penyakit busuk buah dan kanker batang (P. Palmivora Butl.(Butl.)). Kondisi serangan hama dan penyakit ini sudah bersifat kompleks. Hama dan penyakit ini adalah paling populer bagi petani kakao di mana saja yang menanam kakao, termasukpetani-petani negara lain. Hal ini berarti, secara teknis mudah ditanggulangi dengan berbagai metode dan pendekatan sesuai kondisi spesifik wilayah. Kalau hama dan penyakit ini dibiarkan bisa mengakibatkan 80 – 100 % pendapatan yang berasal dari kakao hilang tidak diterima petani. Kasus ini sebetulnya telah berlangsung selama 3 tahun, dan pada tahun ini dapat dianggap puncak ledakan yang terasa pada penurunan pendapatan petani. Karena bukan sebagai hama dan penyakit yang baru, maka sebetulnya secara teknis, oleh petani mudah mengatasinya dan ini sudah dilakukan oleh petani Sikka yang ada di Desa Tilong (Kecamatan Nita). Untuk mau melihat lebih dekat efektivitas penanggulangan di tingkat petani, maka dapat berkunjung ke kebun milik bapak Johanes Bertsman yang memiliki tanaman sehat sebanyak 2000 pohon (setara 2 ha) dan sedang berproduksi.

Menurut Mudita et al. (2005) masih ada lagi hama atau penyakit kakao yang juga cukup berbahaya yang setiap saat dapat meledak dan bisa juga mengganas, seperti penyakit jamur upas (corticium salmonicolor) dan penyakit mati pucuk/antraknose colletotrichum dan busuk buah kering (collecotrichum gloeosporiodes (Penz.) Sacc.). Kedua penyakit ini juga tergolong sebagai penyakit berbahaya, dan kedua penyakit ini sudah ada di Sikka dalam level intensitas serangan yang belum berbahaya.

Bahasan di atas ini membawa pikiran kita adalah bahwa walaupun penyebab hilangnya pendapatan yang berasal dari kakao yang disebabkan oleh hama dan penyakit, namun esensi dari permasalahan utama dari rawan pangan di 10 desa ini adalah karena “pertanaman tua” yang mengalami kompleksitas dengan serangan hama dan penyakit yang serius. Ibarat manusia yang sudah lanjut usia, mudah terserang penyakit. Masalah ini ternyata juga ditemui secara meluas hampir pada semua kecamatan-kecamatan penghasil kakao. Dengan demikian untuk mengatasi hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah mengganti tanaman tua dengan tanaman baru alias replanting.

Secara praktis dan teoritis, mengatasi masalah-masalah teknis seperti yang terjadi di Kabupaten Sikka tidaklah sulit. Pilihan teknologi atau tindakan teknis yang bisa dilakukan oleh petani antara lain rehabilitasi tanaman, sanitasi lingkungan, tindakan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (HPT), replanting dengan klon-klon unggul baru dan lain sebagainya. Namun yang menjadi benturan di tingkat lapangan saat ini adalah bukan masalah teknis belaka, bahkan justru telah bergeser pada masalah non-teknis yang tidak rasional terhadap substansi masalah utama. Contohnya antara lain ada informasi yang menyatakan bahwa petani tidak mau menggantikan tanamannya karena berhubungan dengan kepercayaan lokal dan leluhurnya, dan seterusnya.

Memang, dipahami bahwa jika misi teknis lapang ini bisa mencapai tujuan, maka perlu juga memahami kondisi sosial yang spesifik. Namun pemahaman ini tidakdiartikan bahwa masalah teknis utama dapat tergeser begitu saja hanya karena terbuai oleh pendapat semu yang dapat membawa kita secara tidak langsung menggeser permasalahan utama, yakni masalah teknis. Di desa, semakin banyak kita memahami kondisi lokal, maka semakin banyak juga kita akan menemui pengetahuan atau kearifan lokal yang ada. Oleh karena itu, sebagai contoh bahwa jika terbawa oleh pendapat bahwa kesulitan merubah petani untuk bisa menggantikan tanaman baru, sebetulnya kita telah membiarkan kemiskinan yang berkelanjutan. Pernyataan ini hanya untuk mengingatkan bahwa kasus-kasus seperti pada sepuluh desa ini mau tidak mau pilihan teknis untuk memperbaiki pertanaman untuk masa akan datang adalah replanting.

Mengapa perlu replanting? Karena pilihan teknis lain tidak bisa menyelesaikan masalah untuk jangka waktu yang panjang. Rehabilitasi tanaman seperti pemangkasan berat dan penyambungan samping hanyalah menyelesaikan masalah untuk jangka waktu menengah, karena sebagian organ tanaman tetap akan berumur tua dan tidak efektif secara fisiologis. Begitu juga, tindakan yang bersifat jangka pendek seperti pelaburan batang atau penyemprotan insektisida hanyalah menyelesaikan masalah saat ini. Kesimpulannya bahwa replanting adalah pilihan terbaik untuk petani dalam menjamin ketahanan pangan jangka panjang. Jika tidak mempertimbangkan tindakan replanting, sebetulnya kita terus menyimpan bom waktu yang setiap saat bisa saja meledak dan membahayakan siapa saja. Makna replanting, sudah tentu harus mengandung sifat yang komprehensif dengan tetap mempertimbangkan dan menekan risiko kerusakan lingkungan lahan, seperti masalah konservasi lahan. Dengan demikian program replanting yang diakomodir, setidaknya tetap berdampingan utuh dengan kegiatan konservasi lahan, terutama wilayah-wilayah berlereng.

Sekali lagi bahwa replanting adalah pendekatan dan tindakan teknis yang bersifat strategis. Pilihan jangka pendek seperti tindakan PHT tetap dijalankan seperti pengendalian secara biologi menggunakan semut hitam (dolichoderus thoracicus) atau jamur beauveria bassiana untuk mengendalikan PBK, penggunaan insektisida yang dianjurkan dan lain-lain, termasuk juga tindakan rehabilitasi tanaman terutama untuk pertanaman yang berumur sedang (antara 7 -10 tahun) yang tidak produktif. Klon-klon kakao lindak unggul yang cukup terkenal antara lain GC7, ICS 13, ICS 60, RCC 70, RCC71, TSH 858, TSH 908, Pa 300 dan lain-lain.

Bisa dibayangkan, seandainya tindakan teknis terus diabaikan atau hanya dinomorduakan, maka kita akan kehilangan hasil senilai Rp 240 miliar dalam sepuluh tahun. Untuk menekan ini, sudah tentu yang dipikirkan juga adalah tindakan jangka panjang yang taktis seperti upaya replanting. Nilai materil seperti ini mungkin bisa ditutupi dengan kompensasi lain. Namun implikasi dari kerugian ini perlu juga dicermati terhadap resiko sosial yang sangat berarti dan mungkinakan merambah ke persoalan sosial politik.

Semoga petani kakao di Kabupaten Sikka bisa memahami maksud dari isi pikiran penulis sehingga secara tulus dapat merelakan pertanaman yang sudah tua, terutama yang telah berumur lebih dari 20 tahun, untuk menggantikannya dengan klon-klon yang lebih unggul. Penulis punya keyakinan bahwa pemerintah masih mampu menggantikan pertanaman kakao dengan klon-klon unggul secara bertahap, daripada menyiapkan dana sebesar-besarnya hanya untuk mau membeli insektisida ataupun peralatan seperti sprayer atau gunting pangkas yang tergolong mahal, yang sebetulnya petani sudah punya dan mungkin sudah mampu membelinya.

Menggantikan dan memperkenalkan klon-klon baru adalah tugas negara, karena petani tidak memilki akses terhadap teknologi ini. Pengalaman menunjukkan bahwa membeli peralatan seperti tersebut di atas dalam jumlah yang sangat banyak adalah tidak efektif, dan mungkin juga tidak efisien. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi petani dan komunitas pertanian secara umum. Memang butuh waktu untuk meyakinkan petani akan hal ini, namun sudah banyak pilihan pendekatan dengan memanfaatkan teknologi multi-media atau pemutaran film di desa dalam rangka menggugah petani atau juga pendekatan lain.

Karena persoalan kakao di Sikka, sudah terlanjur menjadi kompleks maka setidaknya di tingkat instansional perlu penanganan secara lintas sektor/instansi di bawah komando bupati agar lebih efektif. Karena hanya mengharapkan level dinas perkebunan akan menjadi kesulitan bagi kepala dinas.

* Penulis, peneliti pada Balai

Pengkajian Teknologi (BPTP) NTT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: