Ketika Berada di Shaf Dakwah

majalahsaksi.com Alangkah cepatnya waktu berlalu. Banyak peristiwa-peristiwa besar telah terjadi. Beribu bahkan berjuta pengalaman terhampar dihadapan sebagai pelajaran. Para pendukung dakwah ada yang datang dan ada pula yang berguguran. Sesuai sunnatullah dan sunnah da'wah itu sendiri. Karena jalan dakwah ini hakekatnya akan selalu menelusuri jalan yang panjang, sedikit pendukung serta banyak rintangan.    Belum begitu lama rasanya bersama teman-teman sesama mahasiswa berdakwah kian kemari. Sehari bahkan ada sanggup yang mengisi sampai 3 kelompok halaqoh. Gesit, lincah, mobile, idealis, semangat yang penuh izzah, menegakkan kalimatullah. Pada hari-hari itu maupun bulan-bulannya selalu dipenuhi dengan agenda halaqoh, training, tadabbur al-qur'an dan sesekali melakukan tafakkur alam. Karena sering dicurigai - dimasa orde baru- maka kegiatan inipun sering dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, di musholla, di petak-petak kontrakan, di tempat-tempat kos, ditaman-taman bahkan di gudang yang tidak terpakai lagi. Pada masa itu rasanya, hitungan barisan pendukung dakwah masih sangat sedikit, masih dibawah seratusan orang. Ketika itu ikatan ukhuwwah terasa sangat kuat, rasa persaudaraan serta ta'awun diantara teman-teman seperjuangan sangatlah kental. Suasana senasib dan sepenanggungan terbangun melalui pertemuan-pertemuan di jalsah ruhiyyah dan diskusi mengenai masalah ummat serta segala problematikanya.    Semangat beribadah juga tearasa sangat tinggi, disamping ibadah mahdhoh, puasa senin-kamis, qiyamul lail serta getol sekali melaksanakan ibadah-ibadah sunnat lainnya. Hal ini diiringi oleh semangat perjuangan yang menyala-nyala, perubahan melakukan shibghoh, pencelupan nilai-nilai Islam. Jenggot dipanjangkan sementara dahi mulai berwarna hitam sebagai tanda bekas sujud.    Diantara ikhwah satu persatu mulai menikah diusia yang relatif masih muda. Terharu rasanya melihat -dalam acara-acara tertenu seperti walimahan- pasangan muda ini berjalan kaki, suami isteri, bertukar kendaraan umum sambil menggendong anak perempuan kecil berjilbab, yang manis-manis dan lucu.    Walaupun rata-rata ikhwah saat itu hanya tinggal di rumah-rumah petakan yang plesetkan dengan istilah kontraktor, sehingga mereka bebas memilih jenis kontrakan yang sersuai dengan kekauatan kantong masing-masing.    Ada kenangan indah dimana diantara kita masih hapal nama-nama anak masing-masing. Semua kenangan ini seolah masih terasa baru kemarin dan masih segar dalam ingatan kita semua.    Namun kini zaman telah berubah, jumlah pendukung sudah mencapai rastusan ribu orang. Bahkan dalam pendataan terakhir, jumlah simpatisan yang ikut berpartisipasi dalam acara-acara kampanye PKS menjelang pemilu legislatif mencapai 3,5 juta orang. Dari sini PKS mampu meraih suara sekitar 8,3 juta suara. Tantangan dakwah semakin meluas, para kompetitor mulai serius memperhitungkan keberadaan PKS, bahkan tanpa sungkan, partai sekaliber Golkar sekalipun memasukkan poin PKS sebagai ancaman pada pemilu 2009 nanti. Sebuah analisa yang terlalu panjang, kalau tidak disebut saja dengann kepanjangan.    Namun beberapa keistimewaaan yang dulu dipegang erat, seperti disiplin mulai mengendor, kehadiran dalam jadwal pertemuan mulai sering molor. Janji-janji mulai tidak ditepati. Bahkan mulai terlihat gejala-gejala munculnya penyakit-penyakit pasca tanzhim, semacam degradasi moral setelah berada di shaff jamaah dakwah ini.    Sebagian dari yang dulunya ikhlash mulai menampakkan bibit-bibit riya'    Mulai terlihat gejala para kader yang tadinya hati-hati kemudian menjadi ghurur (lupa diri).    Disamping itu muncul pula gejala suka menonjolkan diri yang menenggelamkan sikap tawaddhu' (rendah hati). Ikatan ukhuwwah mulai mengalami perubahan orientasi.    Sehingga sebagian kader yang tadinya sudah mulai bersemangat, kini juga tertular dan menunjukkan sikap-sikap malas. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi adanya indikasi-indikasi telah terjadinya pelanggaran batas-batas ketentuan syari'ah. Mana boleh mana yang tidak, batasan halal haram perlahan mulai dilanggar.      Walaupun secara perhitungan presentasenya masih sangat kecil, namun secara sampling gejala ini sangat menggusarkan. Hal ini harus segera ditangani dengan serius dan sungguh-sungguh. Ibarat api yang berada di tengah rumah kita, harus dipadamkan sejak kecil. Jangan ditunggu besar, sebab nanti kita tidak akan mampu mengatasinya.    Pengelolaan kader dengan jumlah ratusan ribu tentu merupakan suatu tantangan sendiri bagi kita yang sudah berada di shaff dakwah ini. Pertumbahun kader, disamping menggembirakan hati kita, akan tetapi sekaligus mengingatkan, bahwa setiap kader berpotensi sebagai pendukung gerakan dakwah ini, dan sebaliknya juga berpotensi sebagai pembuat musykilah (gangguan) bagi kita semua.      Pola pembinaan harus diperbaiki, bangunan manajemen kita harus segera ditata ulang, kita tidak boleh alergi dengan penyesuaian-penyesuaian metode sesuai dengan kemajuan zaman disamping semakin canggihnya musuh-musuh merusak bangunan Islam ini.      Kini kesibukan di lapangan politik membuat sebagian kader kewalahan untuk menyeimbangkan komposisi kegiatan yang mesti dilakukan. Terkadang medan politik terasa lebih menyedot energi dan perhatian yang lebih besar, sehingga bidang-bidang lain dari bangunan dakwah ini agak terabaikan. Seni untuk tetap tawazun dalam pengelolaah dakwah ini merupakan sebuah keharusan, jika kita ingin gerakan ini tetap stabil dan terus meluncur maju ke depan.    Maka core aktifitas kita, yaitu kewajiban tarbiyyah tidak boleh terlalaikan. Dia harus menjadi prioritas dalam rancangan-rancangan program. Sebab dari sinilah kita mendapatkan suplai enegi bagi aktifitas dakwah yang padat ini. Kelemahan pada sisi tarbiyyah tentu akan mengakibatkan berbagai gejala-gejala negatif, seperti penyakit pasca tanzhim yang telah diurai diatas tadi.    Program maintenance dari dakwah dan pencarian alternatif-alternatif solusi dalam pengelolaan dakwah sangat dibutuhkan. Dan diantara yang sering dibincangkan dalam suasana konflik kesibukan politik dan dakwah seperti sekarang ini adalah tarbiyyah dzatiyah, semacam tarbiyyah mandiri. SEbenarnya kegiatan seperti ini mulai diajarkan di sekolah-sekolah dasar dengan sebutan Cara Belajar Siswa Aktif. Dimana murid-murid diberikan paket-paket buku dan modul, para siswa yang lebih aktif akan mendapat kemajuan yang signifikan dalam setiap semesternya.    Dalam tarbiyyah dzatiyah, kata 'mandiri' tidak identik dengan infirodi (individual). Jadi pengelolaan maupun konsepnya tetap dalam lingkup amal jama'i, namun para kader dirangsang untuk melakukan upgrade masing-masing diri dengan banyak membaca, hafalan ayat dan hadits, latihan olah raga, beladiri dsb. Yang semuanya itu tidak mungkin harus dilaksanakan seluruhnya dalam acara-acara struktur untuk para kader.    Kongkritnya, setiap kader hendaklah menyusun program-program harian, pekanan, bulanan bahkan tahunan, dan setiap kader harus mendisiplinkan diri menjalankan rancangan program tersebut. Jika hal-hal sederhana ini kita coba mulai dari kita sendiri, maka ungkapan seorang ulama, menjadi terbukti dalam istilah 'Al-Wajibatu aktsaru minal awqaat', bahwa ternyata kewajiban-kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Dengan demikian setiap waktu menjadi begitu bermakna dan berlalu tanpa kesia-siaan. Insya Allah.    Tifatul Sembiring

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: